JAKARTA, SENIN- Hingga hari Senin (22/9) ini, pemerintah belum akan menghentikan impor susu dari Cina yang diduga mengandung melamine. Hal tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di sela rapat kerja (raker) dengan Komisi VI DPR, di Jakarta.
"Pasti enggak lah. Kita harus menilai barangnya dan tentunya itu bagian dari inspeksi. Kita akan lihat apakah kandungannya mengandung melamine atau tidak, baru BPOM yang akan putuskan untuk menarik dari peredaran," kata Mari.
Mari mengatakan akan melakukan investigasi dan tindak lanjut apakah susu yang beredar di Indonesia mengandung melamine atau tidak.
Mari mengakui ada laporan dari China bahwa ada 12 daftar perusahaan dan merek susu yang diduga mengandung melamine. Daftar tersebut kemudian diteruskan oleh Mari kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). "BPOM yang bertanggung jawab memeriksa dan kita mengkoordinasi dalam pengawasannya," kata Mari.
Lebih lanjut Mari mengataka, BPOM sebagai pintu pertama yang mengeluarkan izin untuk barang impor yang beredar. Dan untuk barang yang beredar harus memiliki label dari BPOM. Jadi, kata Mari, BPOM juga sebagai pintu pertama yang harus mengawasi semua barang yang masuk. Hendaknya, sebelum barang impor masuk dan beredar di pasar, BPOM melakukan testing terlebih dahulu
Saat ini impor susu terbesar di Indonesia berasal dari Australia dan New Zealand. Sedangkan untuk impor susu dari China jumlahnya masih sedikit. "Saya tidak tahu persis angkanya, tetapi tidak terlalu besar," tutur Mari.
Di China, menurut Mari, kasus ini mendapat perhatian yang lebih besar dibandingkan di Indonesia. Perusahaan susu yang diduga mengandung melamine tersebut mendapat hukuman berat karena disinyalir menyebabkan kematian. Karena itu, pemerintah China menarik semua produk susu dari peredaran.
Namun, katanya, mereka terlambat menarik produk susu dari peredaran sehingga menyebabkan ada yg meninggal dan sakit. "Di sana pun sedang ditelusuri kesalahannya di pabrik, di distributor pengumpul susu, atau petaninya," ujar Mari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang