Pemerintah Belum Akan Hentikan Impor Susu Cina

Kompas.com - 22/09/2008, 19:26 WIB

JAKARTA, SENIN- Hingga hari Senin (22/9) ini, pemerintah belum akan menghentikan impor susu dari Cina yang diduga mengandung melamine. Hal tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di sela rapat kerja (raker) dengan Komisi VI DPR, di Jakarta.

"Pasti enggak lah. Kita harus menilai barangnya dan tentunya itu bagian dari inspeksi. Kita akan lihat apakah kandungannya mengandung melamine atau tidak, baru BPOM yang akan putuskan untuk menarik dari peredaran," kata Mari.

Mari mengatakan akan melakukan investigasi dan tindak lanjut apakah susu yang beredar di Indonesia mengandung melamine atau tidak.

Mari mengakui ada laporan dari China bahwa ada 12 daftar perusahaan dan merek susu yang diduga mengandung melamine. Daftar tersebut kemudian diteruskan oleh Mari kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). "BPOM yang bertanggung jawab memeriksa dan kita mengkoordinasi dalam pengawasannya," kata Mari.

Lebih lanjut Mari mengataka, BPOM sebagai pintu pertama yang mengeluarkan izin untuk barang impor yang beredar. Dan untuk barang yang beredar harus memiliki label dari BPOM. Jadi, kata Mari, BPOM juga sebagai pintu pertama yang harus mengawasi semua barang yang masuk. Hendaknya, sebelum barang impor masuk dan beredar di pasar, BPOM melakukan testing terlebih dahulu

Saat ini impor susu terbesar di Indonesia berasal dari Australia dan New Zealand. Sedangkan untuk impor susu dari China jumlahnya masih sedikit. "Saya tidak tahu persis angkanya, tetapi tidak terlalu besar," tutur Mari.

Di China, menurut Mari, kasus ini mendapat perhatian yang lebih besar dibandingkan di Indonesia. Perusahaan susu yang diduga mengandung melamine tersebut mendapat hukuman berat karena disinyalir menyebabkan kematian. Karena itu, pemerintah China menarik semua produk susu dari peredaran.

Namun, katanya, mereka terlambat menarik produk susu dari peredaran sehingga menyebabkan ada yg meninggal dan sakit. "Di sana pun sedang ditelusuri kesalahannya di pabrik, di distributor pengumpul susu, atau petaninya," ujar Mari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau